TANAH BUMBU, Goodnews.co.id – Menyusul sejumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Tanah Bumbu beberapa waktu terakhir, kualitas udara di daerah tersebut kini masuk kategori warning atau tidak sehat berdasarkan pemantauan sementara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tanah Bumbu.
Sekretaris DLH Tanah Bumbu, Indah Maya Suryanti, mengatakan pemantauan dilakukan menggunakan alat portable Air Quality Monitoring System (AQMS). Alat tersebut mengukur sejumlah parameter pencemar yang kemudian dikonversikan dalam perhitungan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
“Analisis sementaranya memang bisa dikatakan kondisi kualitas udara kita dari beberapa parameter tersebut sudah dikatakan dalam kondisi warning, tidak sehat, atau dalam kondisi yang di atas baku mutu,” ujar Indah, Senin (14/9/2026).
Hasil pemantauan tersebut, lanjutnya, akan dikoordinasikan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Bumbu selaku ketua Satgas. Koordinasi dilakukan untuk menentukan langkah yang dapat dilakukan masing-masing sektor dalam menghadapi kondisi tersebut.
Indah mengatakan, DLH juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai aktivitas yang berpotensi menimbulkan pencemaran maupun karhutla. Salah satunya mengingatkan warga agar tidak membakar sampah, terutama di lahan terbuka.
Selain itu, DLH melalui bidang pembinaan dan pengawasan mengimbau pelaku usaha memantau kegiatan operasionalnya. Langkah tersebut untuk meminimalisasi aktivitas yang berpotensi menimbulkan polusi, baik dari internal usaha maupun lingkungan sekitar.
Untuk pemantauan kualitas udara, saat ini baru satu unit alat portable AQMS yang dipasang, yakni di Kantor BPBD Tanah Bumbu. Rencananya, alat serupa akan dipasang di beberapa titik lain yang ditentukan bersama BPBD.
“Alat ini dipasang 24 jam. Sudah sekitar tujuh hari dipasang,” katanya.
Selain pemantauan udara, DLH juga menyiagakan lima unit kendaraan yang dapat digunakan untuk kegiatan penyiraman di luar kegiatan rutin. Kendaraan tersebut dioperasionalkan untuk mendukung kegiatan pemadaman apabila diperlukan.
Indah menegaskan, hasil pemantauan kualitas udara akan terus menjadi bahan evaluasi dan koordinasi lintas sektor, terutama di tengah kondisi kemarau dan potensi karhutla di Tanah Bumbu. (dir)








