SIDRAP, Goodnews.co.id – Kabupaten Sidenreng Rappang atau biasa dikenal dengan nama Kabupaten Sidrap adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak 183 kilometer sebelah utara Kota Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan.
Adapun secara astronomis, Kabupaten Sidrap terletak antara 3″43’-4″09’ Lintang Selatan dan 119″41’-120″10’ Bujur Timur.
Kabupaten Sidrap memiliki ibu kota yang juga merupakan pusat pemerintahan, yaitu Pangkajene.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Adapun Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki luas 1.883,25 kilometer persegi yang terbagi dalam 11 kecamatan, 38 kelurahan, dan 65 desa.
Dilansir dari laman sinderengrapangkabppid.kpu.go.id, ada dua versi sejarah dari terbentuknya Kabupaten Sidrap.
Versi pertama berasal dari To Manurung, yaitu manusia yang dikirim Dewata Seuwae ke sebuah daerah yang belum tertata pola perilaku dan pranata sosial masyarakatnya.
Masyarakat ini belum memiliki kearifan lokal dalam membina kebersamaan serta persatuan.
Dalam versi ini, Addaowang Sidenreng Pertama adalah Manurungnge Ri Bulu Lowa, yang telah mangkat digantikan oleh anaknya yaitu Sukkung Pulaweng sebagai Raja ke-II, yang kemudian kawin dengan We Pawawoi Arung Bacukiki Putri Labengnge Manurungnge Ri Bacukiki, dari perkawinannya dengan We Tipu Linge Arung Rappang ke-I.
Sementara itu, versi kedua yang termuat dalam lontarak Mula Ritimpakna Tanae Ri Sidenrreng, menyebutkan, berasal dari Raja di Sidenreng dan Rappang berasal dari Tana Toraja keturunan Raja Sangalla.
Kabupaten Sidrap merayakan hari jadinya setiap tahun sejak didirikan pada 18 Februari 1960. Penentuannya berdasar dari pelantikan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan pertama yaitu pada H Andi Sapada Mappangile. Hal ini termuat di dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Hari Jadi Sidenreng Rappang.
Kabupaten Sidenreng Rappang mendapat julukan Bumi Nene Mallomo, yang berasal dari kisah masyarakat setempat.
Nene Mallomo merupakan sosok hidup sekitar abad ke-16 M, pada masa pemerintahan La Patiroi, Addatuang Sidenreng. Ia juga dikenal dengan salah satu pernyataan yakni Ade’e Temakiana’ Temmakiapo yang berarti Adat dan aturan tidak mengenal anak atau cucu atau maksudnya tidak pandang bulu.
Filosofi Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge Masyarakat Sidrap yang didominasi oleh masyarakat bugis juga mengenal filosofi yang sudah turun temurun diajarkan. Salah satu filosofi dalam Bahasa Bugis yaitu Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge yang artinya saling menghargai, saling menghormati, dan saling mengingatkan kepada sesama.
Filosofi ini masih diterapkan sudah menjadi budaya dan tradisi leluhur bagi masyarakat setempat.
PLTB Sidrap merupakan salah satu ikon Kabupaten Sidrap dengan bentuk baling-baling raksasa di atas perbukitan. PLTB Sidrap I terletak di Desa Mattirotasi dan Desai Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan.
Dilansir dari laman ebtke.esdm.go.id, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap I merupakan pembangkit bertenaga angin skala komersial pertama di Indonesia dengan kapasitas 75 MW yang dibangun untuk mencapai target bauran energi EBT pada area seluas 100 hektar. PLTB ini sudah beroperasi secara sejak 5 April 2018 dan diresmikan Presiden Jokowi pada 2 Juli 2018.Berada di areal seluas 100 hektar di perbukitan Pabbaresseng, Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap.
Taman Wisata Bukit Punjabu berlokasi di Desa Buntu Buangin, Kecamatan Pitu Riase adalah salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Sidrap. Tempat wisata ini juga masuk dalam 300 Besar Desa Wisata di Indonesia yang dikeluarkan oleh Kemenparekraf RI.
Taman Wisata Bukit Punjabu berjarak sekitar 2,8 kilometer dari pusat Desa Buntu Buangin. Rute menanjak dan berliku ke lokasi ini juga turut menyajikan pemandangan indah serta udara yang sejuk.
Adapun fasilitas di tempat ini juga cukup lengkap, dari gazebo, tempat ibadah, toilet, hingga berbagai spot foto yang memanjakan wisatawan. (E)