TANAH BUMBU, Goodnews.co.id – Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, membuka peluang investasi senilai Rp 254,9 miliar untuk pengembangan industri bandeng terintegrasi, mulai dari budidaya, pengolahan hingga pemasaran.
Investasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem industri yang mampu menyerap hasil panen petambak secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng Tanah Bumbu. Dari kapasitas produksi yang disiapkan, pemerintah menargetkan sekitar 60 persen produk dipasarkan ke pasar internasional dan 40 persen untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Peluang investasi itu ditawarkan Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dalam kegiatan Pampr Borneo 2026 di Hotel Fugo Banjarmasin, Jumat (7/8/2026).
Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Pertama DPMPTSP Tanah Bumbu, Mahritasari, mengatakan pengembangan industri bandeng terintegrasi diharapkan menjadi solusi terhadap persoalan yang selama ini dihadapi petambak, terutama ketika terjadi panen raya yang menyebabkan pasokan melimpah dan harga ikan turun.
“Melalui proyek ini, kami ingin menciptakan kemitraan antara petambak dan investor agar hasil panen tidak lagi bergantung pada fluktuasi harga saat produksi melimpah,” ujar Mahritasari.
Panen Melimpah, Harga Kerap Tertekan
Tanah Bumbu selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bandeng di Kalimantan Selatan. Sebagian masyarakat pesisir masih mengandalkan pola budidaya tradisional, mulai dari pembibitan, pembesaran hingga panen.
Pola budidaya tersebut membuat waktu panen cenderung berlangsung pada periode yang hampir bersamaan. Ketika produksi meningkat dalam jumlah besar, kondisi itu berpotensi menekan harga bandeng di tingkat petambak.
Di sisi lain, posisi petambak menjadi kurang menguntungkan ketika hasil panen harus segera dijual dalam kondisi pasokan melimpah.
“Kondisi ini membuat petani berada pada posisi yang dirugikan ketika produksi melimpah dan harga turun,” katanya.
Melalui konsep industri terintegrasi, pemerintah menawarkan pola kemitraan yang menempatkan petambak sebagai pemasok bahan baku, sementara investor atau perusahaan berperan menyerap hasil panen untuk selanjutnya diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Produk yang disiapkan antara lain bandeng kaleng dan bandeng presto. Dengan adanya industri pengolahan, hasil produksi tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar, tetapi dapat diolah, dikemas, dan dipasarkan dalam jangkauan yang lebih luas.
Potensi pengembangan industri tersebut turut ditopang oleh karakteristik bandeng yang dihasilkan petambak Tanah Bumbu.
Mahritasari mengatakan, bandeng Tanah Bumbu memiliki keunggulan karena sebagian besar dibudidayakan secara tradisional. Dalam proses budidaya tersebut, ikan mengonsumsi pakan alami berupa lumut dan tidak bergantung pada pakan buatan.
Kondisi itu dinilai menghasilkan karakter daging bandeng yang lebih padat serta cita rasa yang menjadi salah satu keunggulan produk lokal.
“Dengan sistem tradisional, cita rasa bandeng Tanah Bumbu menjadi khas dan memiliki nilai jual yang tinggi,” jelasnya.
Keunggulan tersebut menjadi salah satu modal untuk mendorong produk bandeng Tanah Bumbu masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.
Pemerintah menargetkan sekitar 60 persen produksi industri nantinya dapat dipasarkan ke luar negeri, sedangkan 40 persen lainnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Siapkan Lahan 725 Hektare
Untuk mendukung pengembangan industri tersebut, pemerintah daerah telah menyiapkan kawasan budidaya di Desa Pendamaran Jaya dengan luas tambak sekitar 725 hektare.
Sementara fasilitas industri pengolahan direncanakan dibangun di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Muara Pagatan dengan luas sekitar lima hektare.
Menurut Mahritasari, kedua lokasi tersebut telah disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tanah Bumbu.
“Lokasi budidaya berada di Desa Pendamaran Jaya, sedangkan industri pengolahan berada di KPI Muara Pagatan dan seluruhnya sudah sesuai dengan RTRW,” ujarnya.
Dengan dukungan kawasan budidaya dan fasilitas pengolahan tersebut, proyek industri bandeng terintegrasi ini dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 3.000 ton per tahun.
Kapasitas tersebut hampir menyamai total produksi bandeng Tanah Bumbu pada 2024 yang mencapai 3.029 ton.
Potensi bahan baku menjadi salah satu pertimbangan dalam penawaran proyek investasi tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi bandeng di Kabupaten Tanah Bumbu menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Produksi tercatat sekitar 2.800 ton pada 2022, meningkat menjadi 3.018 ton pada 2023, kemudian kembali naik menjadi 3.029 ton pada 2024.
Pertumbuhan produksi tersebut menunjukkan adanya potensi pasokan bahan baku yang dapat mendukung pengembangan industri pengolahan bandeng secara berkelanjutan.
DPMPTSP Tanah Bumbu menawarkan proyek tersebut dengan nilai investasi mencapai Rp254,9 miliar. Adapun masa pengembalian modal atau payback period diperkirakan sekitar empat tahun tujuh bulan.
Selain menawarkan potensi bisnis, pemerintah daerah juga menyiapkan sejumlah insentif nonfiskal sebagai bagian dari upaya menarik minat investor.
Dua Investor Mulai Melirik
Meski demikian, realisasi investasi masih menunggu kepastian dari calon investor. Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menempatkan diri sebagai fasilitator yang akan mendampingi proses investasi, mulai dari tahapan awal hingga proyek memasuki tahap operasional.
Mahritasari mengungkapkan, sejauh ini sudah ada dua pihak yang menunjukkan ketertarikan terhadap proyek tersebut.
“Saat ini sudah ada dua pihak yang menunjukkan minat, yakni satu investor dalam negeri, PT Karyana Utama Jaya, serta satu investor asing yang difasilitasi Eurocham Indonesia,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu berharap ketertarikan investor tersebut dapat berkembang menjadi realisasi investasi sehingga konsep industri bandeng terintegrasi tidak hanya menjadi peluang bisnis, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
Pengembangan industri diharapkan mampu menciptakan pasar yang lebih pasti bagi petambak, mengurangi ketergantungan terhadap penjualan ikan segar saat panen raya, meningkatkan nilai tambah produk, serta membuka peluang pasar hingga mancanegara.
Pada akhirnya, investasi tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Tanah Bumbu sebagai salah satu sentra perikanan unggulan di Kalimantan Selatan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. (dir)








