Perbedaan Doktor Terapan dan Akademik

- Editor

Selasa, 25 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Goodnews.co.id – Pembukaan Program Doktor Terapan berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Program Doktor Terapan di Indonesia baru satu tahun berjalan sejak diluncurkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi yang sekarang menjadi Kemendiktisaintek pada Selasa (20/2/2025).

Setidaknya terdapat dua perbedaan antara doktor terapan dan doktor akademik. Program doktor terapan dibuka untuk membantu menyelesaikan masalah yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi, maka dari itu butuh setingkat doktor yang dapat mengatasi sesuai justifikasinya.

Kurikulum doktor terapan fokus pada masalah yang perlu diselesaikan dengan tingkat kompleksitas tinggi. Fokus utama untuk doktor terapan adalah bidang hospitaliti termasuk pariwisata dan teknik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hospitality pariwisata sudah semakin kompleks dan yang berikutnya di bidang keteknikan, engineering, sudah semakin kompleks. Karena bukan hanya manufacturing tapi harus ada IT nya, lingkungannya, dan sehingga dua bidang itu yang kelihatannya duluan,” kata penjabat Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, Kiki Yuliati, dalam Peluncuran Program Doktor Terapan di Artotel Mangkuluhur di Jakarta, Kamis (20/2/2025).

Meski tergolong dalam pendidikan vokasi, program doktor terapan tidak hanya untuk politeknik, melainkan juga universitas, sekolah tinggi, dan institut yang sudah memiliki program magister atau magister terapan yang relevan.

Kiki Yulianti menyebut, para calon mahasiswa doktor terapan haruslah para profesional di bidangnya. Selain itu, ia mengatakan doktor terapan adalah untuk calon dosen yang ingin memperdalam keahliannya.

Ia berharap program doktor terapan dapat berdampak besar untuk pengembangan pendidikan tinggi vokasi. Program ini juga menjawab kebutuhan dunia industri yang dinamis.

“Sehingga program ini akan memberikan manfaat bagi seluruh unsur perguruan tinggi, baik secara kelembagaan, bagi dosen dan tenaga kependidikan, mahasiswa, serta mitra dunia kerja atau industri,” ujar Kiki.

Baca Juga :  Bupati Tanah Bumbu Lantik dan Serahkan SK Pengangkatan 1.241 PPPK

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi menggelar acara Peluncuran Program Doktor Terapan di Jakarta.

Peluncuran Program Doktor Terapan ini untuk menjawab kebingungan masyarakat akan keberlanjutan jenjang pendidikan vokasi, utamanya untuk program pascasarjana. Oleh karena itu, dalam acara ini turut dibahas prasyarat, prosedur, dan instrumen untuk mengusulkan program doktor terapan.

Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Kelembagaan dan Sumber Daya Pendidikan Tinggi Vokasi, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Muhamad Fajar Subkhan, menyebutkan, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi berisi amanat penyelenggaraan pendidikan tinggi dan pengembangan pembukaan prodi doktor terapan.

Muhamad Fajar Subkhan menambahkan, peluncuran program doktor terapan yang dimulai tahun 2024 menjadi momen penting dan strategis dalam pengembangan Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) sekaligus membuka citra dan pola pikir PTV.

“Adanya program doktor terapan diharapkan dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan keterampilan praktis, pengakuan akademik, jaringan profesional yang luas, serta peluang karir yang lebih baik bagi lulusan vokasi,” kata Fajar.

Sementara itu, Tim Pakar Program Doktor Terapan, Lipur Sugiyanta, menjelaskan mengenai prasyarat, prosedur, dan instrumen untuk mengusulkan program doktor terapan.

Ia menambahkan, perguruan tinggi yang dapat mengusulkan program doktor terapan adalah Politeknik, Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dan Perguruan Tinggi Kementerian Lain (PTKL).

“Pengusulan tersebut ada beberapa syarat, seperti terdapat sejumlah program magister atau magister terapan berakreditasi Baik Sekali/B/Unggul/A, memiliki dosen tetap ber-Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) pada program magister/magister terapan sebanyak lebih dari lima, dan perbandingan rasio dosen dengan mahasiswa pada program magister/magister terapan tidak melampaui 1:30 atau 1:45,” kata Lipur dalam paparannya saat Peluncuran Program Doktor Terapan.

Baca Juga :  Mengikuti Kunjungan Bupati Zairullah ke Desa Mekar Jaya

Lipur Sugiyanta menambahkan, kurikulum yang diharapkan dari program doktor terapan, adalah kurikulum yang didorong oleh kebutuhan industri.

Program doktor terapan diharapkan didorong oleh kebutuhan industri, yang artinya industrinya ada lebih dulu.

“Jadi agak sedikit berbeda dengan akademik yang memang pure risk, bukan problem centered design. Vokasi ini yang kita terapkan memang muncul dari industri masalahnya, di semua penelitian itu menjadi kebutuhan industri,” tambah Lipur.

Hasil akhir yang diharapkan pada program doktor terapan tidak hanya berupa karya tulis atau publikasi, tetapi dapat berupa karya desain, prototipe, atau inovasi teknologi.

Sementara itu, terdapat empat program studi untuk doktor terapan, diantaranya Penciptaan Seni dari rumpun Humaniora (Seni), Rekayasa Teknologi Informasi dari rumpun Formal (Komputer), Pemasaran, Inovasi dan Teknologi dari rumpun Terapan (Bisnis), Sistem Siber Fisik, Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis dari rumpun Terapan (Jejaring Ilmu).

Lebih lanjut, Lipur Sugiyanta mengatakan, kriteria prodi doktor terapan serupa dengan kriteria doktor akademik, yaitu kurikulum, dosen, dan unit penyelenggara program studi.

Namun pada isinya terdapat sedikit perbedaan, yaitu kurikulum diharapkan muncul dari kebutuhan industri (industrial driven), dosen yang diusulkan ke Sistem Informasi Pengembangan Kelembagaan Perguruan Tinggi (SILEMKERMA) jumlahnya minimal lima, dan terdapat tambahan pada unit penyelenggara program studinya yang harus memiliki rekam jejak pengembangan keilmuan dan penelitian.

“Perguruan tinggi yang baru mengusulkan program studi doktor terapan, setidaknya memiliki rencana berdasarkan rekam jejak yang sudah ada di program magister,” ucap Lipur. (E)

Berita Terkait

Informasi Pendidikan Dokter Spesialis di Indonesia
Mega Proyek CPI Makassar Sempat Tuai Sorotan
Bumi Nene Mallomo Punya Pembangkit Listrik Tenaga Angin Terbesar di Indonesia
Analisis Induktif dan Deduktif
Lembar Observasi: Pengertian dan Contoh Kasus
10 Terbaik AI Cocok Bagi Pengguna Media Sosial
9 Naga Paling Berpengaruh di Indonesia
Ini Dia Perusahaan Retail Pendapatan Tertinggi Dunia
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 April 2025 - 14:00 WIB

Informasi Pendidikan Dokter Spesialis di Indonesia

Jumat, 28 Maret 2025 - 14:48 WIB

Mega Proyek CPI Makassar Sempat Tuai Sorotan

Jumat, 28 Maret 2025 - 13:28 WIB

Bumi Nene Mallomo Punya Pembangkit Listrik Tenaga Angin Terbesar di Indonesia

Kamis, 27 Maret 2025 - 11:42 WIB

Lembar Observasi: Pengertian dan Contoh Kasus

Senin, 24 Maret 2025 - 12:33 WIB

10 Terbaik AI Cocok Bagi Pengguna Media Sosial

Berita Terbaru

Khazanah

Informasi Pendidikan Dokter Spesialis di Indonesia

Rabu, 2 Apr 2025 - 14:00 WIB

Nasional

Menteri PKP Janjikan 1.000 Unit Rumah bagi Wartawan

Minggu, 30 Mar 2025 - 16:56 WIB

Khazanah

Mega Proyek CPI Makassar Sempat Tuai Sorotan

Jumat, 28 Mar 2025 - 14:48 WIB