JAKARTA, Goodnews.co.id – Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria blak-blakan sampaikan kondisi keuangan BUMN-BUMN karya yang babak belur.
Kondisi keuangan berdarah-darah ini tak hanya menggerogoti induk perusahaan, tapi juga sampai anak-anak usaha BUMN konstruksi. Apalagi, BUMN-BUMN karya ini kompak merugi di waktu bersamaan.
“Memang butuh berkesinambungan. Energi kita juga terbatas. Selesai satu, masuk satu lagi,” ujar Dony saat ditemui di Batang, Jawa Tengah, dikutip pada Senin (3/8/2026).
Sebagai informasi, Empat emiten BUMN di sektor konstruksi sama-sama membukukan kinerja negatif sepanjang 2025. Kerugian kemungkinan akan berlanjut pada tahun 2026. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT PP (Persero) Tbk (PTPP),
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatatkan rugi bersih dengan nilai yang mencapai puluhan triliun rupiah.
Jika dijumlahkan, total kerugian keempat perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp 25,1 triliun. Banyak perusahaan BUMN tersebut juga terjerat utang menggunung.
“Baru masuk ke Pos, kondisinya begitu lagi. Baru masuk ke properti, saya juga frustrasi. Bayangkan, bagaimana tidak frustrasi? Kita lakukan repairment (perbaikan), aset tinggal Rp 7 triliun, sementara utangnya Rp 24 triliun. Mau diapakan?” beber Doni.
Sebagai petinggi Danantara yang mengurusi penyehatan perusahaan-perusahaan pelat merah, ia mengaku terbuka dan berbicara apa adanya mengenai kerugian yang saat diderita beberapa BUMN.
“Saya orangnya apa adanya. Saya ingin masyarakat tahu bahwa kita sedang memperbaiki kondisi yang memang tidak baik-baik saja,” ujar Doni.
Sebagai contoh, Dony menyebut PT PP Properti Tbk yang harus melakukan perbaikan aset dalam jumlah besar sebelum perusahaan dapat dipulihkan.
“PP Properti itu impairment (penyesuaian aset) hampir Rp 13 triliun. Tidak sedikit. Satu per satu kita perbaiki,” ucapnya.
Masalah LRT City
Sebelumnya diberitakan, anak usaha Adhi Karya, PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) belakangan menjadi perhatian publik menyusul belum rampungnya sejumlah proyek apartemen LRT City yang dikembangkannya.
Persoalan itu muncul bersamaan dengan memburuknya kondisi keuangan perusahaan. ADCP diketahui mengalami tekanan likuiditas dengan arus kas operasional yang berada di posisi negatif, sehingga memengaruhi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya kepada konsumen.
Dampaknya dirasakan ribuan pembeli apartemen yang hingga kini masih menunggu kepastian jadwal serah terima unit, meski sebagian telah melunasi pembayaran dan lainnya tetap membayar cicilan setiap bulan.
Tak hanya itu, peluang konsumen untuk memperoleh pengembalian dana (refund) juga dinilai belum mudah direalisasikan karena keterbatasan kondisi kas perusahaan.
Melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko ADHI sebagai induk dari ADCP, Rozi Sparta, menyampaikan permohonan maaf kepada ribuan konsumen yang merasa dirugikan.
“ADCP menyampaikan permohonan maaf kepada para konsumen atas keterlambatan penyelesaian kewajiban serah terima unit,” jelas Rozi.
Penyebab Sebagian LRT City Mangkrak
Rozi mengungkapkan, ada beberapa faktor yang membuat pembangunan fisik sebagian apartemen LRT City mandek di tengah jalan. Perusahaan diketahui tengah mengalami masalah keuangan.
“Saat ini, ADCP menghadapi tantangan likuiditas yang berdampak pada penyelesaian proyek,” jelas Rozi.
Disampaikannya, dalam pipeline business yang berbasis pengembangan kawasan TOD, mengharuskan korporasi untuk menyediakan kawasan lahan di sekitar area stasiun transportasi umum seperti Commuter Line, LRT, dan BRT.
Dengan skema mendekatkan hunian vertikal dengan akses transportasi publik, ADCP juga harus merogoh dana tak sedikit guna membangun beberapa infrastruktur pendukungnya.
“Termasuk menyediakan fasilitas infrastruktur pendukung,” ujar dia.
Namun meski menghadapi kendala keuangan di mana arus kas sampai negatif, ADCP maupun Adhi Karya tetap berupaya melanjutkan pembangunan melalui beberapa skema pendanaan.
“Sementara itu, pengembangan hunian dilakukan secara bertahap sesuai dengan rencana pengembangan,” beber Rozi.
Rozi mengungkapkan, masih lesunya industri properti semakin membuat kinerja PT Adhi Commuter Properti Tbk babak belur.
Masih belum pulihnya sektor properti, lanjut dia, ikut berdampak pada arus kas ADCP. Kondisi ini membuat perseroan kesulitan menyelesaikan pembangunan LRT City di sejumlah lokasi.
“Di sisi lain, kondisi pasar properti dalam beberapa tahun terakhir yang belum sepenuhnya pulih turut mempengaruhi tingkat penjualan produk,” ucap dia.
“Sehingga (kondisi lesunya properti) berdampak pada penerimaan kas dan kemampuan pendanaan penyelesaian proyek,” tutup Rozi melalui Kompas.








