Informasi Tajam dan Terpercaya
Opini  

Mas Elon, Kita, dan Kaos Oblong

Oleh: Syaipul Adhar, ME

Lagi-lagi publik lebih suka membahas kulit dibanding isi dari pertemuan Jokowi dan Elon Musk di SpaceX (14/5/2022), Netizen ramai-ramai menjadi ahli lobi sekaligus fashion manner.

Musababnya, Elon menerima Presiden Jokowi hanya dengan kaos oblong andalannya. Seolah hal ini aib bagi seorang Jokowi, dan sudah pasti salah. Ya, mau gimana lagi, namanya juga bertamu. Terserah tuan rumah dong, jika hanya hanya berkenan berkaos oblong, bukan menurut kamu, apalagi harus apa kata saya.

Kaos yang dipakai mas Elon adalah hak atas dirinya, sebagai tuan rumah sekaligus orang berharta senilai APBN bangsa ini, pun jika harus memilih, kaos oblong bukanlah padanan jas lengkap ala protokoler kenegaraan. Apalagi jika tujuannya adalah akrab dan nyaman.

Seandainya Presiden itu adalah saya, agar seimbang, kaos pabrik kata-kata seperti Dagadu atau Joger menjadi pilihan tepat saya untuk dipakai bertemu Elon. Sejatinya, Jokowi sudah dalam level kenyamanan yang sama, memakai baju putih lengan panjang, kemudian sepatu lokal merk NAH Project seharga 435 ribu rupiah. Tidak berbeda jauh dengan kaos ‘Starman’ Elon seharga 30 Dollars. Kaos itu, dijual online oleh SpaceX dengan konversi 400 ribuan juga. Sampai di sini, level nyaman mereka jelas sudah sama. Justru kamu kan yang tidak nyaman, bukan mereka.

Bagi generasi milenial yang percaya kaos oblong adalah kasta terendah, mungkin perlu membuka ingatan bagaimana dulu bapak ibumu bangga memakai Dagadu, Joger, dan C59. Tak sah rasanya jika ke Bandung tanpa C59, Ke Jogja tanpa Dagadu dan Ke Bali tanpa membeli Joger. Mungkin kalian tidak merasakan emosinya, tapi percayalah milenial harus berjuang untuk itu. Sekedar dapat memilih dan membawa pulang sebagai cenderamata. Dan otomatis diakui sebagai anak gaul dikala itu.

Baca Juga :  Ini Daftar Gaji dan Tunjangan Paspampres

Persis grup pecinta orde baru, tetapi tidak pernah hidup di rezim masa lalu. Sangat Percaya ‘penak zamanku’ lebih baik dibanding era ‘kerja kerja kerja.’ Sebagian mereka adalah produk generasi Stroberi, gampang ngambekan, mentalnya mudah mengkerut, tidak sekuat generasi sebelumnya, walau lebih kreatif dan berani berbeda. Namun terlihat indah dan menarik dari tampilan.

Bagi saya, apapun gaya tuan rumah, selama ia menerima kita dengan nyaman. Ya, why not. Namanya juga tuan rumah, tidak mungkin saya paksa mereka baca buku ‘etika dan mode berpakaian menurut syariat negara anu,’ apalagi standar fiqih Islam atau mungkin chicken soup for the soul.

Khususan buku “rich dad poor dad,” saya yakin mas Elon sudah tamat, buktinya doi adalah orang terkaya di dunia. Apapun itu, dengan beberapa keuntungan yang bakal kita terima pasca pertemuan ini, kaos oblong tidaklah menjadi penting kita bahas. Apalagi soal penolakan Singapura, Enggan menerima tamu Ustad Abdul Shomad di negaranya.

Selanjutnya, saat ini Elon Musk sudah mengirimkan tim untuk membicarakan rencana kerjasama baterai listrik untuk produk Tesla dan proyek masa depannya. Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia, ada di Soroako, Morowali. Sebelumnya pernah kerjasama pengembangan kedirgantaraan antara Antariksa dengan SpaceX. Indonesia pernah memakai jasa perusahaan Elon untuk menempatkan Satelit Nusantara 1 (2019), sangat equal dengan nawa cita tol langit Jokowi. Gak perlu risih lah, sekelas NASA saja MOU dengan mereka kok. Semoga PT DI selanjutnya.

Selain itu, banyak keuntungan lain yang bisa diperoleh dari pertemuan yang seolah receh ini. Tugas Presiden sebagai pembuka jalan dan pemberi pesan sudah jelas. Eksekusinya, ada dipundak para menteri. Mau rapat pakai kaos ‘swan’ atau ‘77’, ya silakan saja. Jikapun harus memilih, bagi saya, kaos Indomaret jauh lebih nyaman.

Baca Juga :  Surveyor Internasional Tinjau Lokasi Bendungan Kusan

Bagi generasi seperti saya, model berpakaian ala Bob Sadino, jelas jauh lebih ekspresif dibanding Elon, yang pendek justru celananya, bukan bajunya, ini jelas sukses menginpirasi. Saya juga pernah baca hikayat Jendral M. Yusuf menampar taipan Om Liem karena bertamu dengan Soeharto bercelana pendek. Benar atau tidak, saya juga tidak yakin.

Saya tidak sezaman Om Bob, apalagi jendral M. Yusuf idola saya. Tapi bagi saya, sosok pengusaha yang tampil nyaman dengan kaos oblong tidaklah banyak. Apalagi di jejeran para menteri, tidak pula Erick Tohir, meski ada Sandiaga Uno sedikit mendekati gaya kaos oblong. Semoga setelah ini, Presiden juga akan mengubah kriterianya.

Disirkel saya, tentu ada sahabat H. Andi Syamsudin Arsyad (H. Isam) dan H. Mardani H. Maming (MHM). Keduanya pecinta kaos oblong, walau MHM sekarang lebih banyak berpakaian formil di muka umum, karena tuntutan organisasinya. Tetapi yang tetap nyaman dengan kaos oblongnya adalah Haji Isam. Tidak berubah sejak awal. Apalagi, Elon dan Haji Isam, yang sama-sama kaos lovers, akan terkoneksi dengan rencana PT Jhonlin Group membuka pabrik smelter nikel pertama di Batulicin Kalimantan Selatan dengan investasi 6,3 triliun, akan berdiri di kawasan penyangga Ibukota baru dan Wilayah Ekonomi Khusus.

Setelah Jokowi bertemu mas Elon, bisa saja H. Isam dan Elon akan bertatap muka. Dan saya akan sangat menantikan itu, dua pengusaha berkaos, bertemu untuk membicarakan masa depan dunia. Keren dan berkelas. Speechless! Disaksikan jokowi pula, dengan baju kebesaran, kerja kerja dan kerja.

Jadi, tidaklah elok jika kita berpendapat akan sesuatu hanya berdasar tampilan sahaja. Jangan memandang isi dengan tampilan. Layaknya saya, pecinta durian dan kue klepon. Durian yang berduri tetapi bikin saya ingin lagi dan lagi. Pun begitu, Apalah arti klepon tanpa gulanya yang legit, apalagi sambil kaos-an ‘Dagadu.’ Artinya, awas matamu, kecipratan gula merah karena selalu melihat sesuatu hanya dari tampilan matamu. Tabik

Baca Juga :  Pertanyaan Seputar NIK Jadi NPWP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *